Posts

Showing posts from May, 2018

Nelangsa itu Hidup

Image
Aku terdiam, membayangkan kesedihan begitu terulang. Melangkah seperti ada yang menaiki. Terasa berat, terasa muram. Kilat pada dadanya menyerang bertubi-tubi. Menjadikannya poros dunia, yang tidak pernah berpindah. Namun tetap menengadah. Memandang langit-langit penuh angkuh, aku tidak sekuatnya. Memanggul beberapa dari sekian makhluk yang bernapas. Menjadikannya pahlawan tanpa penghargaan. Penuh dengan jatuhan bebatuan, yang tak punya tuan. Kemudian terbentur kepalanya yang binar. Tetap bersinar, tetap berdampingan. Tak pernah setinggi langit, namun selalu berusaha sedekat tumit. Pelangi dimatanya seolah menari, menjadi payung diantara rintik kilau hujan. Gerimis tanpa pamit, deras terlalu kokoh. Memikirkan mimpi, menjalankan harap. Mendoakan, meniadakan kepergian. Memakai-kan topi itu padaku, agar tetap terjaga. Memberikan setengah dari hidupnya. Aku tetap sehat, aku tetap bisa bernapas. Menjalankan hidup dengan segala cemas. Tak perlu ada yang dikemas. Sebab, malaikat itu sela...

Sepanjang Hitam itu

Image
Aku pernah menyukai itu. Namun, seperti ada waktu yang tidak berani mengeluarkan segala perbincangan hitam. Jingga yang berjalan mundur untuk tidak bergerak. memutar-mutarkan senjata untuk mematikan dirinya sendiri. Duduk menatap sebagian dari kegelisahan yang menangkap gerak. Menuangkannya pada setiap lembar perlembar baris rasa. Hitamku pernah menjadi putih. Saat itu. Saat aku pandai memberhentikan waktu. dan menarik ulang langkahku. Aku menyukai itu, memutar ulang lagu kesenangan. Tanpa sekalipun menindak lanjuti peperangan. Membawaku lari kepada yang kuasa. Tanpa memikirkan untuk apa. dan sedang apa. Aku terlalu menyukai itu. Kau tidak senang, Aku menyukai itu. Kau melarang, kau mengekang. Mengajak-ku pulang. Aku tidak suka rumah. Tidak suka mendengar apa yang tidak perlu aku dengar. Melakukan tanpa tahu apa yang harus ku lakukan. Aku belajar menyiasati satu demi satu. Waktu demi waktu ku lalui denganmu. Mengikuti apa yang kamu mau. Menurutinya dua demi satu. Aku tidak suka it...

Lelaki Berpergian

Image
Sayu dimatanya membuatku membasuh muka berulang kali. Suara klakson tengah jalan tak membuat lelahnya terkesampingkan. Sepi dan luka terus menemani setiap tapaknya. Membakar arloji yang berjalan satu arah. Menafikan setiap embus napas menjadi isak tangis kepergian. ia tak pernah merasa sendiri, selalu ada teman baik pada setiap langkah. Aku belajar dari lelaki itu. Memendam segala kepedihan sendirian. Menahan segala keraguan seorang. Berjalan dan terus berjalan. Memandangi setiap hamparan dengan ketelitian. Aku diam. Merubah isi pikiran. "Setiap orang akan mati, setiap orang akan pergi. Apa yang kamu pelajari dari keduanya?." Aku bertanya. "Mati adalah pasti, pergi dan berpergian dua kata yang berlawanan. Tak usah di pikirkan. Jalankan, semua sudah di atur Tuhan." Jawab lelaki itu. Pada setiap perkataan yang terlontar aku simpulkan. Sesungguhnya, hidup bukan sekadar mencapai pencapaian. Namun, walaupun perlu perencanaan. Hidup tidak perlu terlalu senang, pe...

Lelaki berwajah Matahari

Image
Aku pun turut merayakan kesedihan, merayu hujan agar tak turun. Membasahi wajahnya yang muram. Jingga dilangit membuatnya tersenyum berkali-kali. Aku turut berduka, pada patahnya yang meluka. Kabut menyarang di ujung kelopak matanya. Mendung dirautnya membuatku tak ingin segera pergi. Aku beranjak, kau tersenyum. Aku mengabaikan. Kau simpan lelahmu begitu dalam. Sampai aku tak pernah berfikir demikian. Aku mengacuhkan. debarmu membuatku untuk sesegera mungkin pulang. Aku begitu semangat bukan demimu. Meninggalkan langkah, menafikan jejak. Aku si pembangkang. Si pengekang. Hangat diwajahmu tak bisa ku tinggalkan, aku tak ingin kehilangan. Maafkan jika hati tak selaras dengan pikiran. Membuatmu membiarkan segala langkahku berjalan tak beraturan. Menapak pada sebuah senja di ujung pemberangkatan. Aku tersedu, bahagiaku bukan cuma itu. Perlukah matahari menampakan dirinya pagi ini? Aku rasa tidak, Matahari sudah terbit dari matamu. Menerangkan segala ikrarku. Menjaga segala sedihk...

Lelaki Kinja

Image
Sedadu itu mulai menampak-kan diri, dari titik paling palung sebuah kehidupan. Menjadi sama dengan. Dahulu sering menembaki dirinya dengan senapan tunggal, kini menembaki satu dari sekian penjanggal. Menikmati proses perjalanan yang melelahkan, hingga pada satu tujuan. Memperbaiki diri hari demi hari. Jam demi jam. Terus membaik. Sampai pada penyembuhan. Ia berpulang. Menempati tempat terbaiknya lebih dulu, tak disangka. Nyawanya terperangkap oleh dunia. Fana, Bajingan, Tak indah, Bangsat. Babi. Mengikuti siasat bumi, Menjalankan alur maya. Hingga dirinya terpecah sebelah, membagi sebagian isi kepala dengan hakikat. Ia tak pergi, hanya saja terlalu menjadikan dirinya mesin pembalut lelah. Mementingkan bahwa hidup harus terpandang. dan banyak uang. Itu tidak terlalu penting. It's not important. Akulah lelaki kinja itu, mencoba melompat-lompat ke tebing tertinggi. Selalu tidak paling tinggi, hanya berada di dekat atas dan didekat bawah. Dunia dan hidup mengajarkan bahwa mati tid...

Indonesiaku sedang tahap pembentukan

Image
Apa yang sedang diperebutkan? Kita dijadikan alat untuk perang, alat untuk menuai kekuasaan. Sebagai objek yang terluka. Kemudian, engkau bersenang-senang. kau menganggap dirimu menang setelahnya. Apa arti dari kemanusiaan? kau begitu lihai mengerti arti dari semuanya. Tanpa tahu arti dari memanusiakan manusia. Dengan pikiran yang membabi buta, menganggap semua sampah. Kau serakah. Aku tidak takut, Kami tidak takut. Walau mati sudah pasti terjadi, aku memilih mati lebih dulu. Lebih cepat dari gerakan sayap burung gereja. Itu yang kau mau bukan? mematikan yang tidak ada dalam syariatmu. Membunuh yang tidak diajarkan dalam pikiranmu, begitu pun Tuhan. Tuhan tidak sedang tidur, Tuhan pun ikut bingung. ketika manusia mensama ratakan kedudukan sebagai Tuhan. Merasa dirinya paling benar. Tuhan tak punya keturunan. Tuhan turut tersenyum. Sudahkah berbenah? Sudahkah merasa bersalah? Kau kerdil yang menjadikan persatuan harga mati menjadi porak poranda. Namun, sebagaimana persatuan. ...

Lentera

Image
Lentera semalam mulai padam, di serang godam habis-habisan. Aku hanya bisa menantikannya kembali terang. Aku tersedu, menunggu cahaya datang dari seberang. Menolongku yang sedang berjalan spontan. Menaikinya satu persatu kehampaan. dengan jubah ketiadaan. ditemani kesunyian. Lentera sengaja tenggelam, aku pun sebentar lagi. Apakah akan ada nestapa setelah ini? Ataukah datang pedusi yang kembali menenangkan? Kemudian kembali ditelantarkan. Aku pun juga ingin disenangkan. Aku juga ingin di ingatkan. Satu pun sama sekali enggan. Untukmu yang berjubah api; tetap hangat, meski air mulai datang dari matamu sendiri. Lenteraku sengaja terbang, ke hilir jauh dari mata. Tidak peduli, tidak lupa, tidak kembali --- pulang. Lantas pada siapa aku kembali? Jika tidak pada matanya yang pandai menenggelamkan. Penuh dengan cerita hidupku. Susah payah aku membuatnya. Jangan kau ubah, kau tidak sepantas itu. Aku ingin membahagiakan, sebagian besar yang menghidupiku hingga saat ini. Namun, satu hal ...

Suatu hari ----- Saat kau perlahan memudar

Image
Semalam aku tertegun, ditengah keramaian dan pada puluhan temaram. Aku berbalik ke arah berlawanan. Memandangiku dengan asing dan bising ibukota tengah malam. Kau mempercepat langkah, aku memandanginya dari belakang. Lalu aku kau tinggalkan. Aku menyusuri gelap sendirian. Memikul jingga pelangi disebagian kepala. Namun tidak bisa, aku tidak akan lupa. Malam itu, seperti malam tak bertuan, malam tanpa bulan, malam tanpa apapun. Aku tetap setia pada diriku. Menggandeng diriku beriringan. Hingga malam menelanku buas. Sampai mataku kantuk dan memelas. Kerlip itu akan tetap bersinar. Tidak akan pernah meninggalkan. Sebab; pagi akan menemuimu setelah doa-doa yang disandarkan pada lampu tidur malam itu. Kaki-kaki ini terpaku pada sebuah tempat indah, selainnya yang berwarna pink. Lalu lalang tatapan tatapan tajam saling berhadapan. Menyala membinarkan cahaya yang terang merusak mata sebagiannya. Timur-timur jiwa berdesak-desak menuju barat,utara,selatan menuju palung ketidakpastian. Pedu...

Matahari Mulai Menepi

Image
Sepagi ini aku terbangun dengan setengah badan, membayangkan suatu masa dimana aku menjadi aku yang kau impikan. Menenangkan segala resah yang menyerang kepala. Menyingkirkan segala cemas yang memelas ditepian belikat dedaunan. Melampiaskan peluh yang mengucur deras dibeludru kiasan. Aku pun menunggu matahari datang. Di atas hamparan kesedihan. Bolehkah aku bersedih sepagi ini? Begitu menusuk sampai ke tulang, menembus sebagian dari diriku. Merasuk hingga ke inti jiwa. Menjalankan tiap dogma dengan penuh paksaan. Menepikan seringai keinginan. Hingga alam pun enggan menyapa. Asik pada egoisnya masing-masing. Aku pun jua sama, egois pada enigma. Tidak percaya dogma. Tetap pada aku. Ibu dan Bapakku seringkali melarang menunggu mentari terbenam. Katanya "Tak usah ditunggu, tapi kejar." Aku seringkali tidak mendengar. Hingga aku terseok sendirian. Berucap sabar sepenuh hati. Meninggalkan cahayanya yang menyingsing padam. Aku tak pernah takut mati, Aku tidak takut hujan. Aku j...