Nelangsa itu Hidup

Aku terdiam, membayangkan kesedihan begitu terulang. Melangkah seperti ada yang menaiki. Terasa berat, terasa muram. Kilat pada dadanya menyerang bertubi-tubi. Menjadikannya poros dunia, yang tidak pernah berpindah. Namun tetap menengadah. Memandang langit-langit penuh angkuh, aku tidak sekuatnya. Memanggul beberapa dari sekian makhluk yang bernapas. Menjadikannya pahlawan tanpa penghargaan. Penuh dengan jatuhan bebatuan, yang tak punya tuan. Kemudian terbentur kepalanya yang binar. Tetap bersinar, tetap berdampingan. Tak pernah setinggi langit, namun selalu berusaha sedekat tumit. Pelangi dimatanya seolah menari, menjadi payung diantara rintik kilau hujan. Gerimis tanpa pamit, deras terlalu kokoh. Memikirkan mimpi, menjalankan harap. Mendoakan, meniadakan kepergian. Memakai-kan topi itu padaku, agar tetap terjaga. Memberikan setengah dari hidupnya. Aku tetap sehat, aku tetap bisa bernapas. Menjalankan hidup dengan segala cemas. Tak perlu ada yang dikemas. Sebab, malaikat itu sela...