Posts

Showing posts from September, 2018

Sunyi di Dinding Kamar

Image
Sejauh apapun kau berlari menjauhiku, aku tidak akan pudar. Pelantaran rumahku dihiasi senyumanmu. Tidak pergi dan tidak kembali. Memunggungi-ku lagi dan terus menerus. Aku tak merasa sepi, hatiku ialah kebun ingatan.Kau boleh mengunjungi, lalu meninggalkan. Kelakar pikiran di tepi kenestapaan membawaku terbang menembus awan. Jika kau tersadar kau memabukkan, tuangkan lagi secangkir senda gurau. Agar ku mampu bertahan hidup lebih lama dari selamanya.

Kelak, jika aku mampu mencapai segala bising yang terurai di sebagian ingatan. dan memungutinya satu persatu tanpa ada paksaan. Ku mau ditemanimu. Sepi dan sunyi biarlah pergi. Menyusuri jalannya sendiri. Tiba saatnya ku terjatuh tanpa bersuara, ku harap kau tetap bersamaku. Menopang segala cemasku, merebahkan semua egoku. Menenangkan damai duniaku. Bisakah kau berjanji tuk malam ini? Jaga tidurku sampai aku terbangun tanpa ada satupun rasa sakit. Terlalu egois memang, Namun apa kau mau meninggalkan-ku juga tanpa suara?

Sesungguhnya hidu…

Aku dan Sepasang Lelah

Image
Aku,
Tak pernah takut kehilanganmu. Aku takut kehilangan diriku. Yang sudah ada pada dirimu. Aku, tak pernah berhenti berlari. Kau tak pernah berhenti menjauh. Aku tidak pernah berhenti berjuang. Kau tidak pernah berhenti menghindariku. Sepasang lelahku sudah mengepakan sayapnya. Menanti sayap-sayap selanjutnya, sampai akhirnya aku tersadar. Bahwa lelahku juga punya batas. Kehilangan mengajariku berbagai cara untuk terbang. Kehilangan menyadarkanku akan satu hal, ada yang pantas aku kejar. Bukan kamu, bukan siapapun. Bukan apapun yang menentang. Namun, suatu kebahagiaan.

Temani aku,
saat-saatku berjuang, dan bila semua terasa sudah nyata. Peluk aku lebih lama lagi. Biarkan perasaanku nyaru dengan udara. Pernah aku berfikir untuk berhenti. Hatiku menolak, hati tak selamanya harus di atur oleh otak. Aku hindari segala ingin yang tak perlu, bila kau merindukanku. Datanglah di tempat dimana aku tak bisa kemana-mana. di ruang waktu yang memenjaraiku hebat. Kau tak perlu melawan sepimu, ya…

Sebuah-pesan-untuk-semesta

Image
Aku merasa jiwaku hidup diantara langit gelap, mendung, dan hujan. Burung camar dari luar jendela menelan sebagian nyala awan. Sedang, ranting pohon tak layu menanti datangnya petang. Sebagian udara terhirup menusuk hingga tergetar seluruh badan. Aku hembuskan setelahnya. Semesta berhasil merentangkan sebagian ingatan. Aku tuliskan sajak-sajak ku yang telah usang. di kertas hambar tanpa rasa

Semesta mulai ingkar janji, pada yang katanya mampu menyejukan. Menenangkan. Aku tak perlu ini itu, apapun itu. Sebagian dari diriku sudah hilang di lenyapkan oleh yang katanya tuhan. Sunyiku perlu di rebahkan di pelantaran langit langit yang sebentar lagi turun hujan. Basahi aku, sampai aku terjatuh sampai ke arah paling tanjung bumi. Sampai suatu hari, kau akan tersadar tentang bagaimana caranya merayakan jatuh.

Sebuah cerita yang mungkin akan di dengar tuhan, tentang masa dimana aku harus membagi sebagian pikiran untuk menerjemahkannya bersama waktu. Tunggu aku menjadi segala ingin yang kau ma…